Dalam perjalanan S3-ku (yang sangaatt panjang), selalu ada masanya naik turun. Ada keraguan, ada keyakinan.

Aku masih selalu terngiang-ngiang waktu sensei bilang “You will likely face social issue too”.. yang terjadi pasca maret 2011, membuatku benar-benar di ambang keraguan, meneruskan atau engga..

Tapi Jepang memberikan banyak pelajaran..

“Kita perlu orang di hilir, bukan hanya di hulu”

GPS.. mahalnya! Aku hampir yakin ngga akan bisa membuat proposal pemasangan GPS, kalau aku yang nyari dana, mungkin aku pake untuk ngajarin anak-anak yang masih buta huruf membaca🙂 dipake untuk memperbaik sekolah-sekolah, dipakai untuk modal belajar dan hidup..

Tapii.. kita berada di tengah menglobalnya dunia,, termasuk, tentu saja, di tengah menglobalnya teknologi.

Indonesia merupakan area yang menarik minat semua penduduk dunia!! (yah, hiperbola dikit :p) Tapi betul deh, nyari literatur-literatur science Indonesia, lebih banyak dikerjakan sama orang asing!. Nah sekarang, dengan mendunianya GPS, dan bertambah banyaknya stasiun-stasiun GPS di Indonesia, masa sih mau mengandalkan orang luar untuk ngutak-atik datanya?

Aku belajar dari Jepang, bahwa semua bidang itu baik! dan semua bidang itu perlu orang yang menekuninya. Dan orang Jepang, kalau sudah menekuni satu bidang, ya betul-betul ditekuni terus! ditekuni, dikembangkan, berimajinasi dan berkreasi. Sempat kelu memikirkan, bisa kah nanti aku terus menekuni yang saat ini aku rintis??

Seminggu belakangan ini, aku banyak mendapat informasi bahwa Indonesia dalam proses memasang rapat stasiun-stasiun GPS. Ya! Memang GPS itu sudah terbutki banyak sekali manfaatnya, dan dalam banyak sekali aspek kehidupan manusia!!

Kalau GPS sudah banyak, sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan untuk keperluan mitigasi bencana. Indonesia-ku, hidup sangat berdekatan dengan dinamika bumi. Wajib kita memahami dinamika dimana kita berpijak, hidup berdampingan dengannya, dan siap saat bumi tengah bergoncang..

So, semangat!

 

 

*Yang membuat semangat malam hari ini:

 

Sunda Strait Needs to Install 30 GPS Devices

The Ancient Catastrophes team also considered the recommendations of experts.

Selasa, 26 Juli 2011, 11:41Arfi Bambani Amri, Nur Eka Sukmawati
VIVAnews – A team studying ancient catastrophes recommended that the installment of global positioning system (GPS) devices between the Sunda Strait and south coast of Java be accelerated.This recommendation is a follow-up to the output of preliminary survey and the research on the earthquake potentials in Sunda Strait and the south of Java.

Thus the respective ministries and institutions including Meteorology and Geophysics Agency (BMG), Volcanology and Geologic Disaster Mitigation Center of Energy and Mineral Resources Ministry, National Survey and Mapping Coordinating Board, Indonesian Institution of Sciences (LIPI) and University of Indonesa were recommended to step up the installation of GPS stations in 20 to 30 locations.

The Ancient Catastrophes team also considered the recommendations of experts (Danny Hilman, Wahyu Triyoso, Yusuf Surahman, Andang Bachtiar, Irwan Meilano, Hamzah Latief and Rahma, a doctor candidate) and Bandung Intitute of Technology (ITB) team as well as 9 Earthquake Mapping Team chaired by Prof. Masyhur Irsyam.

This is also a follow-up to President Susilo Bambang Yudhoyono’s suggestion of recalculating the earthquake potentials especially in Sunda Strait and south of Java.

As already reported, the earthquake potential in Sunda Strait, according to Engkon geologic agency’s study, could reach 8.5 on the Richter scale. Meanwhile Rahma, a doctoral student at Nagoya University) said that the potential could measure 8.7 on Richter scale and the United States Geologic survey agency calculated it to be 9.2.

Recalculation is necessary bearing in mind the large impacts, both material loss and human lives, of such earthquake potential as explained by Team 9 specifically to Jakarta.

“We welcome and appreciate the Jakarta provincial government’s initiative of microzoning and installation of detector devices,” said Erick Rizky, assistant to Humanitarian aid expert staff and coordinator of Ancient Catastrophe research team.

Translated by: Indah Lestari