Saat Gempa M9.0 (Skala Richter) terjadi di Jepang (1)

By Febty Febriani

Jumat, 11 Maret 2011, sekitar pukul 14.30 JST, aku sudah berada di stasiun Nishichiba, stasiun yang berada di depan kampus Chiba University di Nishichiba. Tujuanku adalah stasiun Inage, satu stasiun dari stasiun Nishichiba. Hari itu adalah hari syukuran yang diselenggarakan oleh sepuluh orang mahasiswa S2/S3 Chiba University yang Insya Allah akan lulus di bulan Maret 2011.

 

Sambil menunggu kereta, aku bersender pada palang yang memisahkan jalan menuju ke eskalator dan platform. Beberapa saat terasa guncangan. Aku bergeming. Masih tetap di posisi semula. Mungkin getaran eskalator, pikirku. Tak lama kemudian getaran semakin kuat. Beberapa orang yang berada di platform stasiun Nishichiba mulai saling melirik, saling memastikan.

 

“Gempa, yah”, tanya seorang nenek yang berdiri di dekatku. Aku mengangguk, mengiyakan. Aku dan beberapa calon penumpang kereta masih berada di platform. Sebentar lagi mungkin getarannya akan berhenti, pikirku. Satu minggu yang lalu juga terasa getaran yang cukup kuat. Saat itu, aku tetap berada di lab sampai getaran usai.

 

Ternyata getaran gempa tidak berhenti seperti perkiraanku. Hal sebaliknya yang terjadi. Getaran semakin hebat. Aku pernah merasakan getaran gempa dengan magnitudo 7.3 skala Richter yang melanda Bengkulu pada tahun 2000. Saat itu adalah beberapa hari setelah hari kelulusan SMU. Bagiku, gempa dengan magnitudo 9.0 skala Richter yang terjadi di Jepang tanggal 11 Maret 2011 melebihi getaran gempa Bengkulu tahun 2000.

 

Terasa sekali bumi bergoyang. Atap platform stasiun Nishichiba juga mulai bergoyang ke kiri ke kanan. Serbuk-serbuk kayu  dari atap platform mulai melayang di atas kepala kami. Tiang-tiang listrik di sekitar stasiun Nishichiba juga bergoyang dengan kuat. Mulai ada cemas menjalar. Kalimat-kaliamt Allah yang sedari tadi mengisi ruang hati tetap diucapkan. Tapi, aku melihat para calon penumpang tetap bertahan di platform. Ada yang berpelukan dengan sesama temannya. Sesaat aku tetap bertahan di atas platform. Tetapi melihat atap platform stasiun yang seakan mau runtuh, aku memutuskan untuk turun ke bawah. Tidak banyak penumpang yang menuruni anak-anak tangga itu. Semakin besar tetap bertahan di atas platform.

 

Di lantai satu, aku melihat beberapa orang sudah mulai mendekati pintu keluar. Tak lama kemudian, petugas kereta mengumumkan kalau ada gempa besar yang terjadi di wilayah Kanto dan kereta tidak akan beroperasi hingga beberapa saat. Petugas juga mengumumkan para penumpang diminta keluar dan menuju area evakuasi di kampus Chiba University. Tidak ada keributan. Tidak ada desak-desakan. Semua penumpang termasuk aku, satu persatu menuju pintu keluar stasiun.

 

Keluar dari stasiun, aku melihat sudah banyak orang yang berkumpul di depan stasiun. Semua orang menunggu kepastian apakah kereta akan beroperasi atau tidak. Karena orang-orang di sekelilingku tidak ada yang panik, aku juga bisa tenang. Padahal aku sudah begitu cemas. Akhirnya aku duduk sebentar di depan stasiun. Aku mencoba menghubungi suami yang sedang berada di kampus Tsukuba University. Beberapa orang di sekitarku ternyata juga melakukan hal yang sama. Mencoba menelepon seseorang.

 

Tapi, usahaku tidak berhasil. Jaringan telepon sepertinya terputus untuk sementara waktu. Akhirnya keputusan final dikeluarkan oleh petugas stasiun, kereta tidak akan beroperasi. Beberapa orang sudah mulai memesan taksi. Aku akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki, menuju asrama internasional Chiba University di Inage.

 

Di perjalanan, aku bertemu dengan seorang teman Indonesia. Kuajak dia untuk bersama-sama menuju asrama. Di perjalanan kembali kami merasakan gempa yang besar lagi. Kuajak temanku untuk menuju tempat parkir yang terdekat dengan kami. Paling tidak ini usaha kami untuk menghindari bahaya jika tiang listrik atau pohon-pohon yang terdapat di sepanjang jalan rubuh. Sempat kami melihat seorang jepang yang berambut putih dengan membawa belanjaan menuju ke apartemennya, menaiki satu demi satu tangga menuju lantai tiga. Saat itu bumi Chiba masih terasa getarannya. Di antara rasa panik dan lucu, akhirnya aku dan temanku tersenyum saja melihat pemandangan itu. Setelah tidak lagi terasa getaran, kami melanjutkan perjalanan menuju Inage.

 

“Gempa kali ini lebih kuat getarannya dibandingkan gempa Yogyakarta tahun 2006, Mbak”, itu kata temanku. Dia akhirnya bercerita kalau gempa Yogyakarta tahun 2006 telah meluluhlantakkan rumah kakaknya. Aku sependapat dengannya.

 

“Iya, dek.”, jawabku.

 

“Tapi, mbak, tadi di perpustakaan banyak juga teman-teman jepang yang merekam video saat gempa terjadi”, ujarnya.

 

“Wah, kalau itu juga sama, dek. Di stasiun tadi ada juga yang foto-foto saat gempa terjadi”, aku bercerita.

 

Begitulah. Memang ada kepanikan di wajah orang-orang sekeliling kami. Tapi, di antara kepanikan, tetap ada antri. Orang-orang di sekitar

kami juga tidak berusaha untuk membuat kerusuhan dengan berlarian ke sana kemari. Semuanya masih aman terkendali.

Hampir satu jam kami berjalan menuju ke asrama Chiba University. Sesampainya di asrama Chiba University, beberapa orang Indonesia sedang berkumpul di ruang TV asrama, mendengarkan berita. Baru kutahu gempa kali ini terjadi di wilayah Sendai dengan magnitud 8.8 skala Richter dan menyebabkan tsunami dengan ketinggian 10 meter. Hanya rasa syukur yang akhirnya menjalar setelah mengetahui fakta tersebut. Allah masih sayang dengan kami.

 

Beberapa saat aku dan teman-teman memandang layar kaca 21 inchi yang memberikan laporan pandangan mata kejadian gempa di wilayah Sendai. Melihat air bah yang menghanyutkan apa-apa yang berada di hadapannya, aku teringat dengan tsunami karena gempa Aceh 2005. Persis sekali.

 

Di antara kepanikan itu, kami masih sempat menenangkan satu sama lain. Alhamdulillah acara syukuran hari itu tetap berjalan. Meski gas di wilah Chiba tidak bisa digunakan, karena memang keputusan di antara teman-teman bersepuluh untuk membawa makanan jadi saat syukuran, tetap ada makanan yang sangat layak di sore itu.

 

Hampir seluruh teman-teman di wilayah Chiba berkumpul, makan malam bersama. Beberapa orang sempat menangis merasakan getaran sehebat itu. Kami saling menenangkan. Sejujurnya, aku juga belum bisa tenang. Suami yang masih berada di Tsukuba University belum bisa dihubungi. Beberapa sms yang kukirimkan sejak gempa terjadi sore tadi juga belum ada laporan diterima.

 

Di antara makan malam, akhirnya aku bisa menelepon suami. Alhamdulillah beliau baik-baik saja, tapi beliau belum memastikan apakah akan bisa pulang tidak malam itu ke Chiba karena belum ada kepastian kereta Tsukuba Express akan beroperasi atau tidak. Aku mengiyakan penjelasan beliau dan meminta beliau mengsms atau menelepon apapun hasil keputusan dari pihak stasiun.

 

Tapi, itulah ternyata pertama dan terakhir kalinya aku bisa berbicara dengan suami lewat telepon. Setelah itu aku tidak bisa menelepon atau mengirim sms. Jaringan telepon kembali terganggu. Sampai acara syukuran usai, aku tidak mendapatkan kepastian dari suami apakah beliau akan pulang atau tidak ke Chiba malam itu.

 

Dengan kebaikan Mas Aji dan mbak Dwi, malam itu akan menginap di tempat beliau berdua. Rasa cemas masih ada. Seusai menunaikan shalat Isya dan tilawah, aku sempat menangis. Tapi, tetap ada keyakinan, suami Insya Allah baik-baik saja. Melalui chatroom, aku meminta seorang teman untuk menuliskan pesan di kotak pos apartemen kami. Untuk suamiku .Pesan itu berisikan pesan kalau aku malam itu menginap di tempat mbak Dwi dan mas Aji. Suaminya mbak Nurul juga memastikan kalau lampu rumah kami masih gelap. Kebetulan gedung apartemenku dan mbak Nurul berdampingan. Itu berarti suami masih terjebak di Tsukuba.

 

Seusai menelepon keluarga di Indonesia, akhirnya aku dan mbak Dwi bersama dua orang buah hati mbak Dwi mulai beranjak tidur. Tapi tetap saja lelap tidak datang. Beberapa kali kami mesti terbangun, karena getaran yang kuat beberapa kali menghampiri bumi Chiba malam itu. Kami memang mesti waspada.

 

Pukul 1.30 malam, teleponku berdering. Nama suami muncul di layar  handphoneku. Beliau mengabarkan alhamdulillah baik-baik saja dan malam itu menginap di tempat seorang teman di Tsukuba. Rasa syukur kembali hadir. Alhamdulillah.

 

-bersambung-

 

@rumah, 15 Maret 2011