Catatan Jumat, 11 Maret 2011, 23:00 Waktu Tokyo.

14.46 (menurut jam Kang Adit)

Semuanya masih tampak baik baik saja siang tadi, serius mendengarkan presentasi di International Workshop on Subduction Processes, Tectonics, and related topics along the Sumatra-Java Arc. Pak Hananto baru saja menyelesaikan presentasinya, dan Pak Yusuf sedang bersiap memberikan presentasinya. Aku duduk paling belakang, selang 1 baris dengan Mas Endra. Anak-anak anteng duduk di bawah, nonton Doraemon dengan earphone. Aku sedang membaca abstrak Pak Yusuf saat terasa ada sedikit goncangan. Seperti biasa, ngga pernah langsung “ngeh” kalau ada gempa, dan mencoba menaikkan panca indra rasa akan getaran. perlahan semakin kuat. Aku mulai mengangkat kepala, tapi melihat semua masih berjalan normal. “gempa kecil” pikirku. Tapi rasanya ko masih bergoyang, aku mulai berdiri ke arah anak, saat kumendengar seseorang berkata berkata “isn`t an eartquake?? should we go out?”

Zahra dan Akira pun tampaknya mulai menyadari lantai bergoyang.

Pak Yusuf mulai mengajak ke luar. “Ngga usah” ujar orang-orang Jepang. Memang Gempa ini “makanan” keseharian di Jepang. Tapi goncangan pun semakin besar, dan aku mulai tidak bisa berpijak dengan stabil.

“Hayu Teteh kita keluar!”

Aku menggendong Akira, meraih HP dan dompet di atas meja, dan menggandeng Zahra ke luar kelas, mengikuti Pak Yusuf dan Mr Sibuet. Goncangan semakin keras, berputar di sumbu horizontal, berjalan menjadi tidak stabil. Mas Endra mengambil alih menggendong Akira tepat sebelum turun tangga, Bersama Zahra, sambil pegangan, kami turun dari lantai 2 ke luar. goncangan semakin besar. Tiba di luar, aku melihat orang-orang sudah mulai berkerumunan, dan terus bertambah. Beruntung, di depan gedung terhampar halaman yang luas. Di situlah kami semua berkumpul, Zahra memegang tanganku semakin kuat.

“Mamah, pengen pipis” Ujar Zahra, waduh. bagaimana ini. kubawa Zahra ke area pinggir, ada step berdampingan dengan mobil. Masih dengan tanah bergoyang, sambil berpegangan jongkok di atas rerumputan.

“Mamah, dinginnn” ujar Akira. Zahra juga kedinginan. Waduh, aku ngga ingat kalau di luar dingin, hanya terpikir untuk membawa anak-anak keluar gedung saja, tanpa memikirkan jaket anak2.

“Akira pake jaket Mamah ya”, “Zahra pake sweater Ayah”.

Aku memperhatikan gedung di depan kami, cemas bisa rubuh, sambil juga mengagumi strukturnya yang kuat.

Akhirnya, gempa berhenti. 15.03. Berarti sekitar 15-20 menit. Semua masih menunggu, sambil mulai berkomentar. Kebanyakan merupakan pengalaman pertama merasakan gempa sebesar dan selama itu. Termasuk kami.

Aku mencoba menghubungi kedua orang tua dan bbrp rekan di Nagoya, tetapi gagal semua. smspun tampak gagal, harus dikirim berulang2. Akira mulai lunglai, dan ngga berapa lama tertidur dalam dekapanku. Zahra masih tampak ketakutan, berpegangan kencang ke ayahnya.

Baru mau mulai melemaskan otot, terasa guncangan vertikal di kaki. “The P-wave is coming” ujar Frederick. “Let see how long the S-wave will come”, setelah goncangan vertikal berhenti, datanglah goncangan horizontal “15 second, between the P-wave and S-wave” dan benar-benar terasa lebih lama dan kuat goncangan horizontal ini, mungkin 5-10 menit. Ini adalah pertama kalinya Aku bisa merasakan teori P dan S wave,, dan sadar PS wave karena pas kebetulan ada di samping seismologist😀

Zahra tampak semakin merapat ke ayahnya, ngga mau lepas dari pelukan ayahnya.

“It was 7.9, epicenter is off Tohoku” mulai terdengar beberapa seruan orang-orang.

“There is a tsunami of maximum 10 meter in Tohoku” Beberapa menit kemudian diralat menjadi 4 meter in average. “indutated until the city of Tohoku” Kepalaku langsung melayang ke Mako-san, tetapi lagi-lagi gagal sambungan telpon “ya, memang kalau gempa seringkali jaringan telpon dimatikan, atau terlalu sibuk”

Cepat sekali informasi beredar. Aftershock masih terasa, dengan goyangan yang lebih lemah, sebagaimana lazimnya aku merasakan gempa2 di Nagoya.

Petugas bertopi putih, dengan memegang map dan pinsil mulai terlihat, memeriksa dan mengkonfirmasi kondisi setiap orang. Dalam kondisi evakuasi begini, ketua masing2 unit bertugas mencek keberadaan dan keselamatan membernya.

Kebanyakan orang mulai rileks, dan mempertanyakan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Kami mendapat himbauan untuk tetap berada di luar, sementara dalam gedung diperiksa keamanannya.

Beberapa orang kembali ke dalam gedung, untuk sekedar mengambil jaket.. kamera atau video, dan tas, termasuk suamiku. Zahra mulai rilek, dan Akira juga terbangun. Mereka sudah bisa tertawa dan bermain lagi. Obrolan dan diskusi berlangsung secara sporadis. Ada yang bisa mengakses TV dari HPnya, dan dari situ kami mendapat beberapa informasi. Sambungan telpon dari Nagoya mulai bisa masuk, namun dari HP ku masih belum bisa menelpon keluar. Sms mulai bisa berjalan, hampir tanpa delay. Dan akhirnya berhasil bertukar kabar dengan Keluarga yang cemas di Indonesia.

Lama juga kami dievakuasi di luar, mungkin sampe sekitar jam 4. Karena cuaca yang dingin, kemudian datang komando untuk berlindung di kafetaria, kafetari 1 lantai di halaman itu, yang langsung terisi penuh, sehingga kami memilih untuk tetap berada di luar. Ngga berapa lama kemudian, menjelang stg 5, kami dibubarkan. Workshop ditutup di luar dengan foto bersama.

Kami berjalan kaki menuju stasiun Kawashinoha Campus, sekitar 30 menit jalan santai ala Zahra-Akira. Tiba di stasiun, pas dengan petugas kereta menutup terali besi pintu masuk ke kereta Tsukuba Express. “kereta tidak bisa beroperasi, keadaan rel sedang dicek, juga keadaan gempa susulan, kapn bisa beroperasi lagi, kami belum bisa menjawab”

Terkatung-katung.. bersama puluhan orang lainnya. Mall besar di samping stasiun juga ditutup, kombini juga ditutup, toko-toko makanan yang berjajar disana, semuanya ditutup. Hotel kami berada 2 stasiun dari situ, tetapi kalau jalan kaki, terhalang sungai besar, dan harus jalan memutar. Estimasi menurut iphone: 2 jam. Not so good idea if with children. Jadi kami memutuskan untuk turut antri taksi, di belakang 6 orang yang sudah lebih dulu mengantri, menyusul dengan cepat barisan orang di belakang kami. Aku memperhatiakn, beberapa orang menggunakan semacam selimut dari bahan seperti aluminium

Sekitar jam 6, toko kombini dibuka, aku langsung masuk, sementara mas endra tetap antri di jalur taksi.. yang tak kunjung datang itu..Aku beli onigiri dan air putih untuk makan malam dan persediaan sarapan. Zahra ingin ke toilet, namun ternyata di kombini itu ngga ada toilet. Aku menhampiri seorang petugas, dan menanyakan kemungkinan adanya toilet yang bisa digunakan. “Bisa masuk mall ini, sudah mulai dibuka untuk evakuasi, ujarnya, masuk di pintu sana” ujar petugas itu sembari menunjuk arah lokasi pintu masuk, yang ternyata ngga jauh dari tempat menunggu taksi.

Kami kemudian ikut duduk di dalam mall, bersama puluhan orang lainnya. kami diberik semacam selimut aluminiu, yang ternyata cukup membantu, makanan emergency: air, cracker dan sele kacang, serta kardus untuk alas duduk. Ternyata beberapa rekan jepang yang bersama di workshop ada 5-6 orang sudah terlebih dulu duduk disitu, sehingga kami bergabung bersama mereka.

Zahra mulai makan onigiri, sedangkan Akira makan cracker, dan asik sendiri mencoba minum dari wadah plastic khusus air. Aku mencoba menghemat batre HP agar bisa tetap mengirimkan kabar ke keluarga di Indonesia. Sementara itu, mas endra mencoba mengontak beberapa teman, dan mencari-cari informasi.. Tiba-tiba terlihat ada Pak Yusuf di dalam mall juga, langsung mas endra menghampirinya. “Neng, ayah mau ke hotel Pa Yusuf dulu, nanya apa bisa tidur disitu malam ini” dengan Akira yang sudah mulai agak rewel, mau barenga ayah terus.

Menjelang jam 8, tepat saat kami hendak dipindahkan tempat evakuasinya, mas endra datang kembali “Hayu, kita nginep di hotel Pak Yusuf, zahra ganbatte ne”

Kami pun berjalan kaki sekitar 15 menit menuju hotel. Naik tangga ke lantai 5 karena lift tidak berjalan. Dapet indomie dari Pak Udrekh. Barulah bisa dapat info dari TV, ternyata efek gempa nya besar sekali! rasanya ngga percaya ini hasil gempa M7.9! apa ini Tsunami Earthquake? pikirku…

“Yu, Bobo” Akira yang sudah mengantuk, cepat terlelap tidur, Tetapi Zahra masih takut dan belum bisa tidur. Ternyata berada di lantai 5, gempa-gempa susulannya lebih terasa! ditambah lagi, ada retakan di kamar hotel akibat gempa siang tadi. Sambil menonton berita di TV, Tsunami yang terjadi dasyhat, padahal Jepang sudah mendesain pemceah mbak, tembok pembatas, tata ruang, yang mempertimbangakn resiko bencana tsunami, dan masih mendapat tsunami 4 meter, dengan inundasi yang jauh ke daratan, apalagi kalau engga dipersiapkan ya. Kebakaran juga dipalorkan terjadi di Chiba..

“Nagoya ga yokatta” ujarnya. Di Nagoya pernah juga merasakan gempa, tapi hanya gempa kecill yang langsung hilang.

“Tokyo kowai! Takut! pengen cepet pulang ke Nagoya”

Sambil bercerita mengenai gempa.akhirnya zahra tertidur juga…

Gempa besar ini, pengalaman gempa pertamanya.. seperti juga untukku, dan banyak orang lainnya. Gempa susulan masih juga belum berhenti hingga tengah malam ini. Ternyata, magnitude gempa sudah di-update: Mw 8.9 (gempa pertama, USGS), besar sekali! dan gempa kuat yang kurasakan berikutnya, berkekuatan M7.1 (gempa ke-2, USGS). Aftershocknya banyak bergerak ke arah selatan, yakni ke tokyo ini (JMA). Detail ttg gempa, akan di posting secara terpisah.

Aftershocks JMA, until 22:30

Aftershocks JMA, until 22:30

Aftershocks yang menemani ketikanku, tidak termasuk yang hanya 1-5 detik:

23:05

23:56

24:08

24:13-15

24:20

24:33

24:37

24:43

Kayanya hari ini bener-bener jadi “Jishin Hodai”

Kalau ada istilah “Tabe Hodai” untuk all you eat, “Nomi Hodai” untuk all you can drink, “Jishin Hodai” istilah jadi2an untuk kenyang gempa .. and hope it will stop and get safe soonn!!

hope tommorrow the transportation can run again.. so we can get home… amiiinnn

*Segala yang di langit dan di bumi, milik Allah yang Maha Besar*