Ulasan dari Pak Awang di milis IAGI:

Gempa bermagnitude 6,5 Mw, kedalaman hiposentrum 55,6
> km lumayan menggoyang kota Jakarta. Saya mengurungkan turun
> lift dari Lt 22 karena gedung Patra Jasa tempat kantor
> BPMIGAS berayun walaupun tak sekeras saat gempa Tasikmalaya
> bulan lalu terjadi. Gempa berpusat di Ujung Kulon, Selat
> Sunda.
> >
> > Nampaknya gempa-gempa tengah aktif antara selatan
> Sumatra-Jawa, berayun seperti bandul dari ujung satu ke
> ujung lain, kini menyerang tengahnya. Berhati2-lah kawan…
> >
> > salam,
> > Awang
> >
> > Magnitude 6.5 – SUNDA STRAIT, INDONESIA
> > 2009 October 16 09:52:52 UTC
> > DetailsMaps
> > Earthquake Details
> > Magnitude 6.5
> > Date-Time Friday, October 16, 2009 at 09:52:52 UTC
> > Friday, October 16, 2009 at 04:52:52 PM at epicenter
> >
> > Location 6.692°S, 105.153°E
> > Depth 55.6 km (34.5 miles)
> > Region SUNDA STRAIT, INDONESIA
> > Distances 137 km (85 miles) S (185°) from
> T.-Telukbetung, Sumatra, Indonesia
> > 187 km (116 miles) W (278°) from Sukabumi, Java,
> Indonesia
> > 187 km (116 miles) WSW (251°) from JAKARTA, Java,
> Indonesia
> >
> > Location Uncertainty horizontal +/- 12.3 km (7.6
> miles); depth +/- 17.5 km (10.9 miles)
> > Parameters NST= 33, Nph= 33, Dmin=350.5 km, Rmss=1.41
> sec, Gp= 76°,
> > M-type=teleseismic moment magnitude (Mw), Version=7
> > Source U.S. Geological Survey, National Earthquake
> Information Center:
> > World Data Center for Seismology, Denver

Selat Sunda memang didominasi deformasi ekstensi terutama pada Neogen. Penyebab utamanya adalah karena wilayah ini berada pada area transtension duplex, yaitu suatu area yang terkoyak (tension) oleh dua sesar mendatar besar (transcurrent/transform) yang saling tumpang tindih (duplex). Dua sesar mendatar besar itu adalah Sesar Sumatra dan Sesar Ujung Kulon. Kedua sesar tersebut punya pergeseran dekstral (menganan), dan hubungan di antara keduanya membentuk relay (outline di peta) yang downstep (turun tangga) dari Sesar Sumatra di sebelah baratlaut ke Sesar Ujung Kulon di sebelah tenggara. Akibatnya, relay downstep ini membentuk belokan tajam (dogleg) berarah utara-selatan. Area downstep inilah yang membuka akibat mekanisme transtension duplex.

Kondisi ekstensi Selat Sunda diperparah dengan terjadinya rotasi anti-clockwise Jawa (Hall, 1995; Ngkoimani, 2006 -berdasarkan pengukuran paleomagnetik) dan rotasi clockwise Sumatra (Ninkovich, 1976; Haile, 1980; Pulunggono, 1984 -berdasarkan pengukuran paleomagnetik dan analisis struktur) yang juga terjadi pada Neogen. Kedua perputaran yang berlawanan ini telah menyebabkan Selat Sunda membuka membentuk segitiga -menyempit ke timurlaut dan melebar ke baratdaya.

Plotting hampir semua struktur di Selat Sunda untuk kedalaman <10 km berdasarkan data seismik menunjukkan sesar2 normal berarah utara-selatan atau UTL-SBD. Inilah yang kita kenal sebagai trend struktur Sunda. Bahwa Selat Sunda mengalami ekstensi pada Neogen dibuktikan pula dengan begitu tebalnya strata Neogen di wilayah ini (Handayani, 2008). Untuk kedalaman >10 km, susah diketahui bagaimana pola strukturnya sebab umumnya kedalaman sudah  mencapai basement.

Data USGS terakhir untuk gempa Ujung Kulon 16 Oktober 2009 telah dikoreksi ke magnitude antara 6.1-6.3 Mw dan seperti yang Pak Irwan tuliskan lokasinya telah dikoreksi dari sebelah barat Ujung Kulon ke sebelah selatan Pulau Panaitan. Perbedaan yang besar dengan data BMKG adalah kedalaman fokusnya, BMKG menyatakan kedalaman 10 km sementara USGS dalam koreksinya yang terakhir menyatakan kedalaman 42-53 km. Seperti yang juga Pak Irwan tuliskan, berdasarkan momen tensor solution-nya pematahan batuan pada gempa ini berupa sesar naik dengan jurus 116/296 NE dan kemiringan 60 deg.

Arah pematahan ini bukan arah yang sesuai dengan arah dominan struktur di Selat Sunda yaitu U-S atau UTL-SBD, juga bukan tipe struktur yang dominan di Selat Sunda yaitu sesar normal. Tetapi, arah ini sejajar dengan arah konvergensi subduksi kerak Samudera Hindia di bawah kerak akresi Sumatra-Jawa di sebelah selatan-baratdaya Selat Sunda.

Bila kedalaman fokus gempa sekitar 50 km (USGS data), maka pematahan terjadi di slab-nya (slab earthquake) sebab kerak di Selat Sunda telah menipis akibat ekstensi. Dan untuk itu wajar terjadi pematahan naik dengan arah yang sejajar konvergensi subduksi sebab sekitar 80 % pematahan di wilayah ini (Bengkulu-selatan Jawa Barat) berdasarkan database momen tensor semuanya menunjukkan pematahan naik yang sejajar konvergensi lempeng.

Bila kedalamannya 10 km (data BMKG), maka pematahan batuan terjadi di over-riding plate yang sebenarnya masih didominasi pola ekstensi U-S dan sesar normal. Hanya, pematahan gempa kali ini yang merupakan sesar naik dan berarah BBL-TTG, berlawanan dengan trend regional di wilayah ini. Maka bila data kedalaman dari BMKG benar, akan diperlukan penjelasan tersendiri tentang kaitannya terhadap struktur regional.

Sementara itu, berdasarkan data historical seismicity 20 tahun terakhir, nampak bahwa pola penyebaran episentrum gempa dari Bengkulu-Selat Sunda-Jawa Barat membentuk pola “bowtie” alias dasi kupu-kupu, yaitu melebar (banyak) di Bengkulu dan Jawa Barat, tetapi menyempit (sedikit) di tengah (Selat Sunda). Relatif sedikitnya episentrum di sekitar Selat Sunda bisa ditafsirkan sebagai area seismic gap zone yang bisa ditafsirkan sedang terjadi pembangunan gaya kompresi di sini; tetapi bisa juga tak terkait dengan seismic gap zone akibat pembangunan kompresi sebab area Selat Sunda secara struktur geologi bukan area kompresi, melainkan ekstensi; sehingga berbeda dari Bengkulu dan Jawa Barat.

Apa pun itu, gempa kemarin telah menggoyang Ujung Kulon dan sekitarnya dengan kuat (VI MMI berdasarkan shake map USGS) dan menggoyang Jakarta dengan lemah (III MMI, meskipun saya merasakan cukup karena berkantor di Lt. 22). Area Gunungapi Anak Krakatau berdasarkan ekstrapolasi data, digoyang dengan skala V MMI (moderate). Gunung Krakatau punya sejarah letusan eksplosif saat magmanya mencapai tingkat asam dengan SiO2 content di atas 55 %. Diferensiasi magmatik ini bersiklus dan kondisi asam seperti letusan paroxysmal 1883 tak pernah tercapai lagi. Mungkin saja goyangan skala V MMI menggoyang kantong magma Anak Krakatau, tetapi magma Krakatau mesti kental dulu baru ia terbatuk-batuk.

Info gempa dari USGS:

http://earthquake.usgs.gov/eqcenter/recenteqsww/Quakes/us2009mva4.php