By Pak Awang Satyana, dari milis IAGI

Artikel terbaru di GSA Bulletin (July/August 2009 v. 121 no. 7/8 p. 992-1012), Sak et al. (2009) : “Rough crust subduction, forearc kinematics, and Quaternary uplift rates, Costa Rican segment of the Middle american Trench” dapat menjadi referensi yang baik dan analogi untuk hal yang sama di selatan Jawa.

Kalau kita melihat peta dasar Samudera Hindia di selatan Jawa, di antara 10-14 LS atau sekitar 300-700 km dari garis pantai selatan Jawa terdapat kompleks dasar Samudera Hindia yang tidak mulus atau tidak rata. Area ini “ditumbuhi” banyak sea mounts, ridges, sisa hotspot seperti Christmas Island, juga oceanic plateaux yang luas yang terkenal dengan nama Roo Rise dan bagian barat Argo abyssal plain. Kompleks ini dalam geologi marin disebut sebagai rough oceanic crust. Karena kerak Samudera Hindia saat ini sedang maju ke arah Jawa dengan kecepatan 6.7-7.0 cm/tahun dan menunjam di bawah Jawa, maka rough crust ini suatu saat akan menunjam juga di bawah Jawa sebagai rough crust subduction.

Apakah penunjaman kerak samudera yang mulus dan yang kasar banyak plato-nya akan sama ? Tentu saja tidak sama. Dan perbedaannya, akan tercermin dalam struktur forearc dan prisma akresinya – akan mempengaruhi kinematika forearc. Hitungan kasar saja dengan menggunakan berbagai asumsi, maka kerak2 kasar ini akan menunjam di bawah Jawa pada 5-10 juta tahun yang akan datang.

Apa akan yang terjadi saat ada rough crust subduction ? Orthogonal subduction (frontal, tegak lurus) rough crust akan menghasilkan deformation styles tertentu pada area forearc. Styles ini akan bisa dibedakan berdasarkan :

(1) roughness kerak dan ketebalan lempeng samudera yang menunjam,

(2) kemiringan lempeng samudera yang menunjam -Wadati-Benioff zone,

(3) variasi tingkat surface uplift dari endapan pantai Kuarter, dan

(4) orientasi serta tipe sesar yang mendeformasi sedimen forearc.

Convergent margins dapat mengalami akresi atau subduction erosion, dan tingkatnya bergantung kepada beberapa faktor seperti volume input sedimen, sudut subduksi, basal friction (friksi top subduction level dengan base prisma akresi), dan sea floor roughness. Convergent margins yang didominasi oleh subduction erosion, misalnya Peru, Costa Rica, Guatemala, northern Chile, Jepang, New Britain, dan Tonga – yaitu Pacific Rim – Ring of Fire, merupakan tipe yang paling banyak dan biasanya dicirikan oleh rapid convergence dan sedimen input yang terbatas. Convergent margin Sumatra dan Jawa, karena banyak sedimen yang terlibat dalam subduksi, terutama yang berasal dari Bengal Fan, India (dari Himalaya Mountains) dan Sundaland, maka Sumatra dan Jawa berada pada tipe antara akresi dan subduction erosion. Tetapi convergent margin di utara Papua, timur Halmahera dan utara Sulawesi adalah tipe subduction erosion seperti tipe-tipe Pacific rim lainnya.

——

pertanyaan ku masih tetep.. apakah hal ini memberikan kontribusi akan pencetus tsunami earthquake di selatan Java?