Pertama kali membuat istilah manajemen konsentrasi adalah saat berbincang-bincang dengan teman perempuan yang merupakan mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Biologi ITB-NYMPHAEA. Saat itu aku adalah salah satu calon Ketua Ikatan Mahasiswa Geodesi ITB – IMG. Membagi waktu antara kuliah dan organisasi, apalgi saat itu aku aktif di 2 organisasi kampus tentunya memerlukan strategi. Menurut temanku, caranya adalah dengan istilahku  manajemen konsentrasi, yaitu mengatur agar konsentrasi kita baik pada waktu yang tepat. Misalnya, saat di kelas, kita benar2 konsentrasi untuk kuliah, menyerap dan memahami isi kuliah yang diberikan, sehingga kita tidak keluar dari kelas dalam keadaan `tadi kuliah tentang apa ya???`. Keluar dari kelas, kita berorganisasi sesuai porsi waktu kita, misalnya berada di himpunan pada waktu yang jelas, hal ini diperlukan karena saat kita menjadi pengurus, tentunya orang-orang akan mencari kita, selain juga kita harus memajukan organisasi kita.. *pada akhirnya sih untung ga jadi ketua, hehe*

Pada saat kita berorganisasi, kita pun perlu berpikir dan menata waktu kita. Jangan saat kita di kelas, kita memikirkan organisasi, dan saat kita di organisasi, kita memikirikan kuliah, itu adalah manajemen konsentrasi yang salah, yang berakibat akan menjadi kacaunya kegiatan kita.

Kedua kalinya aku teringatkan akan manajemen konsentrasi adalah pada saat aku mempertimbangkan untuk melanjutkan studi jenjang S2, di kala sedang mengandung anak pertama. Di satu sisi ingin berada full di rumah mengasuh bayi, di sisi lain, ada tawaran beasiswa, dan juga keringanan kuliah disaat melahirkan dan beberapa bulan sesudahnya. Ketua Departemen saat itu mengajak diskusi dan membahas mengenai manajemen konsentrasi. bagaimana kita bisa berkonsentrasi secara optimal, walaupun berganti-ganti subject secara cepat. Contohnya ada Ketua Departmen itu sendiri. Di saat beliau bekerja di depan komputernya, datang mahasiswa, makan beliau harus memindahkan konsentrasi ke mahasiswa tersebut, seperginya mahasiswa tersebut, tentunya harus bisa dengan cepat kembali berkonsentrasi ke pekerjaan yang tengah beliau lakukan sebelumnya. lalu akan datang orang TU misalnya, atau dosen lain, maka konsentrasi harus berpindah kembali, lalu ada telpon dari pusat, maka konsentrasi harus berpindah kembali. Mempunyai konsentrasi yang baik memang memerlukan latihan, tidak datang dengan sendirinya.

Maka di saat aku sedang kuliah doktor sembari punya 1 anak 4 tahun dan satu bayi, manajemen konsentrasi WAJIB aku latih, bagaimana tidak, di saat sedang puncak2 ada ide research, ternyata sudah waktunya jemput anak, pekerjaan harus ditunda keesokan hari, sementara saat baru datang ke lab, biasanya konsentrasi tidak segera datang. Di saat belajar di rumah pun, kita harus sembari siaga melayani anak-anak dan mengurus rumah. tanpa adanya manajemen konsentrasi, tentunya tidak bisa menata waktu dengan baik, dan efisiensi belajar jadi tidak ada. Goodluck for me!!!